Tuesday, January 5, 2016

Bekerja (di perusahaan) itu Bagaikan Menikah

Banyak orang di sekitar saya yang mengatakan ada dua hal penting dalam hidup yang pada saat kita memutuskan atau memilihnya harus kita pikirkan secara baik dan matang. Pertama sudah pasti adalah ketika kita memilih pasangan hidup. Kedua adalah ketika kita memilih pekerjaan. Alasannya ya karena kita akan menghabiskan hampir separuh usia kita (kalo panjang umur) untuk kedua hal tersebut. Jadi singkat cerita jangan sampai kita menyesal dan tidak menikmati kedua hal tersebut. Karena bisa dibayangkan apabila kita tidak menikmati kedua hal tersebut betapa menderita kita di sepanjang hidup.

Melihat dari urgensi kedua hal tersebut dalam hidup manusia, disadari atau tidak, antara proses mendapatkan pekerjaan dan jodoh (pasangan hidup) memiliki persamaan yaitu sama-sama terdiri dari masa PDKT, masa pacaran dan masa menikah. Ketika sebuah perusahaan atau pelamar kerja saling tertarik dan dianggap memiliki kualifikasi yang cocok satu sama lain, maka akan terjadi proses PDKT. Proses PDKT itu akan diawali dengan saling mencari informasi satu sama lain. Bagi perusahaan mereka melihat informasi dari CV yang dimasukkan pelamar kerja dan bagi pelamar kerja mereka bisa mengakses informasi perusahaan melalui website. Jika dirasa cocok pasti perusahaan akan memanggil si pelamar kerja dan melakukan proses interview (saling mengenal satu sama lain) dan pastinya melalui serangkaian tes untuk menguji kompetensi "calon pasangannya" atau bahkan menguji sejauh mana loyaitasnya.

Setelah proses PDKT selesai dan dirasa cocok, pada proses selanjutnya akan terjadi proses pacaran yaitu masa-masa probation dan kontrak. Pada masa ini si pekerja masih diamati dan nilai kinerja serta perilakunya oleh perusahaan dan begitu pula sebaliknya, si pekerja juga akan menilai apakah perusahaan ini cocok menjadi tempat berkarya dan mencari nafkah yang baik di sepanjang usia produktifnya. Setelah melalui berbagai proses itu tadi, pastinya dengan melewati berbagai macam pertimbangan, saat merasa cocok satu sama lain maka pekerja itu akan menetap dan perusahaan pun akan mengangkatnya menjadi karyawan tetap. Mereka berdua saling BERKOMITMEN untuk membahagiakan dan setia satu sama lain sampai hari tua (pensiun) nanti.

Realita yang terjadi, sering kali di masa pacaran (kontrak) atau malah masa nikah (si karyawan menjadi karyawan tetap) terjadi ketidakcocokan satu sama lain yang menimbulkan perpisahan. Pada masa pacaran (kontrak) perpisahaan ini sering disamakan seperti pasangan yang putus dan disamakan seperti pasangan yang bercerai untuk yang sudah "menikah dengan perusahaannya" a.k.a karyawan tetap. Perpisahaan tersebut bisa dilakukan secara sepihak ataupun hasil kesepakatan kedua belah pihak. Serupa dengan berbagai kasus kawin cerai yang sedang menimpa banyak artis di Indonesia, tingkat perceraian antara pekerja dan perusahaan pun semakin banyak terjadi dikarenakan ketidakpuasan satu sama lain.

Renungan untuk saya:

Jika bekerja di perusahaan itu seperti menikah, bukankah seharusnya itu bisa menjadi sebuah hubungan jangka panjang?
Jika bekerja di perusahaan itu seperti menikah bukankah kita tidak boleh menyerah dengan kekurangan satu sama lain dan siap menerima tantangan dalam "rumah tangga" tersebut? Karena tidak ada pekerja dan perusahaan yang sempurna di dunia ini.
Jika bekerja itu seperti menikah bukankah itu semua memerlukan komitmen dan loyalitas?
Jika bekerja itu seperti menikah bukankah ketika memilihnya kita harus mengikuti kata hati dan passion kita? Bukan karena uang semata?
Siapkah saya menikah dengan pekerjaan saya?


Note: Tulisan ini saya buat di sela waktu kerja saya. Di sebuah kafe di daerah Darmawangsa.

Saturday, February 23, 2013

Welcome Back

I just wanna say, welcome back Ratna to the blog world. Ternyata gw udah lama sekali ya nggak nulis sesuatu di blog ini. Terakhir ngeliat postingan blog itu di awal tahun 2012-an dan itu udah lama banget. Well, mungkin karena terlalu banyak yang berubah di hidup gw. Bisa dibilang berubah 180 derajat. Kenapa gw bilang gitu? Karena gw harus mengakhiri hidup gw menjadi mahasiswa yang masih suka main kemana aja, dan harus mengawali hidup baru gw di dunia kerja. KAGET. Itu satu kata yang bisa gw gambarkan di awal masa-masa itu. Meskipun sebelumnya gw udah udah pernah ngerasain kerja sambilan, tapi tetep aja, kerja full time itu berat. Apalagi kerjaan pertama gw itu, di bidang dan lingkungan kerja yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya sama gw. Boleh dibilang, ya nggak ada nyambung-nyambungnya sama sekali sama cita-cita gw dan ilmu yang gw pelajari di kampus (baca:komunikasi). Oke, pekerjaan pertama yang gw dapetin setelah 3 bulan jadi pengangguran adalah menjadi seorang staff divisi HRD di salah satu perusahaan Retail ternama di dunia dan di Indonesia. Kenapa gw bilang di dunia? Karena aslinya retail ini asalnya dari Amerika. Walaupun kerja di perusahaan besar, tapi entah kenapa gw merasa nggak seneng sama kerjaan itu. Percaya nggak percaya, hampir tiap malem gw mimpi serem soal kerjaan. Salah ngitung gaji karyawan lah, dimarahin atasan lah, dan sebagainya. Alhasil, gw cuma bisa bertahan selama 6 bulan. Nah, cerita masih berlanjut. Setelah kurang lebih selama 2 minggu gw glundang glundung di rumah sambil ikut interview ke mana-mana, akhirnya gw dapet kerjaan baru, di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sertifikasi. Kali ini gw nyebur di bidang yang menurut gw nggak banget bagi kebanyakan orang yaitu dunia marketing. Gw juga sebenernya agak ragu sih, apa bisa gw jualan. Dan ya, memang bener, nawarin sesuatu ke orang supaya dia mau beli itu nggak gampang. Tapi untungnya jualan gw gk model jualan ala sales panci yang door to door, dari satu rumah ke rumah. Yang ini bisa di bilang jualan elegan. So far so good sih, nggak kerasa sampai gw nulis di blog ini, ternyata udah 3 bulan aja di perusahaan ini. Kebetulan gw masuk di education division, di mana sasaran gw adalah universitas di Indonesia, gw punya banyak kesempatan untuk travelling dari Sumatera sampai Papua dan ketemu sama petinggi-petinggi kampus. Ya, semoga gw betah di tempat ini, itung-itung cari pengalaman. Kadang, passion itu muncul dari hal-hal yang nggak pernah kita duga dan bayangin sebelumnya kan?

Thursday, February 16, 2012

Dan Gerimis pun........... :)



Dan gerimis pun membasahi tanah, gerimis membasahi dedaunan, gerimis membasahi rerumputan, gerimis membasahiku............

Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore. Gerimis belum juga berhenti, matahari pun telah kembali keperaduannya. Aku masih terduduk di depan pagar sebuah rumah, entah rumah siapa itu, aku tidak tahu. Mataku masih tertuju pada sebuah pintu rumah yang ada di seberangku. Berharap seseorang akan keluar dari pintu itu dan mendatangiku sambil membawa sebuah payung. Namun orang yang kutunggu tak kunjung keluar dari rumahnya. Sesekali, ia hanya mencoba mengintip dari balik tirai jendela, berharap aku pergi dan menyerah begitu saja. Aku pantang menyerah, sebisaku kutunggu orang itu. Siapa tahu hatinya akan luluh, pikirku. Beberapa saat kemudian, orang itu keluar dari pintu rumahnya. Akhirnya penantianku tidak sia-sia. Tapi orang itu malah mengeluarkan mobilnya, dan pergi meninggalkan rumah itu, entah kemana. Aku ingin memanggilnya, namun tak mungkin ku teriak. Aku sendirian...


Dan gerimis pun membasahi tanah, gerimis membasahi dedaunan, gerimis membasahi rerumputan, gerimis membasahiku............


Aku masih menunggu orang itu. Tak lama kemudian muncul seorang anak kecil dan seorang ibu dari dalam rumah yang halamannya menjadi persinggahanku berteduh. Mereka memintaku masuk, sekedar untuk menghangatkan badan, meyeruput teh, menyicip beberapa kue. Baiknya keluarga itu. Hingga pukul 7 malam lebih 30 menit orang yang kutunggu tak kunjung kembali. Merasa tak enak berlama-lama di sana, kuputuskan menulis sebuah surat yang kutitipkan kepada gadis kecil pemilik rumah. Tolong sampaikan surat ini kepada pemilik rumah di seberang itu, pintaku. Namun tiba-tiba terdengar suara mobil dari rumah seberang. Ternyata orang yang kutunggu telah kembali. Senangnya hatiku. Aku keluar rumah, berpamitan kepada keluarga penyelamat itu. Aku harus mendekati orang yang kutunggu, pikirku. Sebelum ku sempat menghampirinya, ia telah menghampiriku. Namun yang keluar dari mulutnya hanya kalimat penuh emosi. Aku seperti seorang pengganggu baginya, ia menyuruhku kembali pulang. Aku sedih dan kecewa, mengapa orang yang kutunggu tak mau mendengarkan penjelasanku. Memang sudah seharusnya aku pulang. Aku terlalu letih menunggunya. Sepertinya semua penantian sia-sia. Aku pun menyerah dan kembali pulang......

Dan gerimis pun membasahi tanah, gerimis membasahi dedaunan, gerimis membasahi rerumputan, gerimis tidak membasahiku............

Aku berdiri di luar radio, melihat gerimis. Ada seorang laki-laki yang menghampiriku. Kacamatanya berembun, dia berjalan keluar dari mobil sambil berpayung riang di tengah gerimis. Dia mendekatiku, tersenyum padaku. Ia menjemputku. Kedatangannya membuatku tersadar dari lamunanku. Kali ini laki-laki yang kutunggu telah datang dan kami akan jalan-jalan. Dia bukan orang yang kutunggu di depan pagar rumah orang lain  waktu itu. Tapi dia adalah orang memberikan kasihnya padaku dan mengobati kesedihanku. Laki-laki yang selalu menemaniku, memberikan kebahagiaan baru bagiku.


Dan gerimis pun (masih) membasahi tanah, gerimis (masih) membasahi dedaunan, gerimis (masih) membasahi rerumputan............
Dan gerimis pun............



Saturday, January 14, 2012

Belgian Chocolate Made In Malaysia

Suatu saat di Kamis sore, pas gue lagi siaran After Hour, tiba-tiba salah seorang temen sekantor masuk ruang siaran, sambil membawa sebuah kotak dan nanya ke gue.

Tama   : Ada yang mau cokelat nggak
Gw      : Mauuu dong, dari siapa?
Tama   : Dari Si Fajar. Ibunya baru balik dari Malaysia. (Ternyata ibunya kerja di sana)



Kayanya temen gue salah besar kalo nanya apakah gue mau cokelat atau nggak. Karena itu merupakan pertanyaan retoris yang bener-bener nggak membutuhkan jawaban. Udah pasti lah gue bakal menjawab mauuu atau iyaaa. Nah, abis dia nawarin tuh cokelat ke gue sama anak-anak lainnya, kita buka lah itu cokelat. Kok namanya Belgian Chocolate ya? Padahal asalnya dari Malayasia -___- Ah yang penting cokelat dan rasanya enak. Jadi cokelat itu bentuknya hati, ada cokelat putih dan cokelat biasa. Rasanya sih lumayan, cuma yang jadi pertanyaan gue adalah kenapa cokelat Malaysia ini dinamain Belgian Chocolate sih. Yang jelas sore itu gue menghabiskan 3 buah cokelat hati (ternyata rasanya manis banget, jadi gampang bikin kenyang). Lumayan deh buat menaikkan lagi mood gue yang rada jelek sore itu (jujur sore itu gue lagi males banget siaran). Jadi, semakin terbukti, cokelat emang bisa mengembalikan mood gue.. Makasih buat Ibunya si Fajar yang udah ngasih cokelat ke kita yah. Kapan-kapan kasih lagi ya.. Senantiasa tertampung deh :)))

Wednesday, January 11, 2012

Cokelat Pahit : Super Duper Hopeless

Nggak tau kenapa belakangan ini gw ngerasa putus asa banget. Mulai dari urusan skripsi yang tinggal sidang doang tapi masih terkatung-katung sampai soal masa depan. And yeaahh, the big problem is about future. Gw mendadak takut, dari optimis tiba-tiba jadi pesimis. Well, gw merasa apa yang gw lakukan belakangan ini stagnan. Nggak membuat perubahan apa-apa dalam hidup gw. Gw takut nggak bisa ngebahagian keluarga gw, dan diri gw sendiri. Semua pengharapan gw untuk lulus secepatnya sepertinya bakalan terhambat karena urusan ini dan itu. Belom lagi abis lulus gw harus nyari kerjaan yang gw sendiri bingung, mau kerja apa gw nanti. Sedangkan waktu terus berjalan, dan gw sudah berusaha sebisa gw, tapi sampai sekarang pun belom ada hasil yang jelas. Usia terus bertambah, diikuti oleh tanggungjawab yang sudah menanti. Di umur saya yang ke 22 tahun ini, Tolong, kasih saya kesempatan buat membahagiakan orang-orang yang saya sayangi (ini lagi minta ke Allah ceritanya). Mudahkan lah jalanku ya Allah... amin :)

Semangat, Na ;)))