Thursday, February 16, 2012

Dan Gerimis pun........... :)



Dan gerimis pun membasahi tanah, gerimis membasahi dedaunan, gerimis membasahi rerumputan, gerimis membasahiku............

Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore. Gerimis belum juga berhenti, matahari pun telah kembali keperaduannya. Aku masih terduduk di depan pagar sebuah rumah, entah rumah siapa itu, aku tidak tahu. Mataku masih tertuju pada sebuah pintu rumah yang ada di seberangku. Berharap seseorang akan keluar dari pintu itu dan mendatangiku sambil membawa sebuah payung. Namun orang yang kutunggu tak kunjung keluar dari rumahnya. Sesekali, ia hanya mencoba mengintip dari balik tirai jendela, berharap aku pergi dan menyerah begitu saja. Aku pantang menyerah, sebisaku kutunggu orang itu. Siapa tahu hatinya akan luluh, pikirku. Beberapa saat kemudian, orang itu keluar dari pintu rumahnya. Akhirnya penantianku tidak sia-sia. Tapi orang itu malah mengeluarkan mobilnya, dan pergi meninggalkan rumah itu, entah kemana. Aku ingin memanggilnya, namun tak mungkin ku teriak. Aku sendirian...


Dan gerimis pun membasahi tanah, gerimis membasahi dedaunan, gerimis membasahi rerumputan, gerimis membasahiku............


Aku masih menunggu orang itu. Tak lama kemudian muncul seorang anak kecil dan seorang ibu dari dalam rumah yang halamannya menjadi persinggahanku berteduh. Mereka memintaku masuk, sekedar untuk menghangatkan badan, meyeruput teh, menyicip beberapa kue. Baiknya keluarga itu. Hingga pukul 7 malam lebih 30 menit orang yang kutunggu tak kunjung kembali. Merasa tak enak berlama-lama di sana, kuputuskan menulis sebuah surat yang kutitipkan kepada gadis kecil pemilik rumah. Tolong sampaikan surat ini kepada pemilik rumah di seberang itu, pintaku. Namun tiba-tiba terdengar suara mobil dari rumah seberang. Ternyata orang yang kutunggu telah kembali. Senangnya hatiku. Aku keluar rumah, berpamitan kepada keluarga penyelamat itu. Aku harus mendekati orang yang kutunggu, pikirku. Sebelum ku sempat menghampirinya, ia telah menghampiriku. Namun yang keluar dari mulutnya hanya kalimat penuh emosi. Aku seperti seorang pengganggu baginya, ia menyuruhku kembali pulang. Aku sedih dan kecewa, mengapa orang yang kutunggu tak mau mendengarkan penjelasanku. Memang sudah seharusnya aku pulang. Aku terlalu letih menunggunya. Sepertinya semua penantian sia-sia. Aku pun menyerah dan kembali pulang......

Dan gerimis pun membasahi tanah, gerimis membasahi dedaunan, gerimis membasahi rerumputan, gerimis tidak membasahiku............

Aku berdiri di luar radio, melihat gerimis. Ada seorang laki-laki yang menghampiriku. Kacamatanya berembun, dia berjalan keluar dari mobil sambil berpayung riang di tengah gerimis. Dia mendekatiku, tersenyum padaku. Ia menjemputku. Kedatangannya membuatku tersadar dari lamunanku. Kali ini laki-laki yang kutunggu telah datang dan kami akan jalan-jalan. Dia bukan orang yang kutunggu di depan pagar rumah orang lain  waktu itu. Tapi dia adalah orang memberikan kasihnya padaku dan mengobati kesedihanku. Laki-laki yang selalu menemaniku, memberikan kebahagiaan baru bagiku.


Dan gerimis pun (masih) membasahi tanah, gerimis (masih) membasahi dedaunan, gerimis (masih) membasahi rerumputan............
Dan gerimis pun............



Saturday, January 14, 2012

Belgian Chocolate Made In Malaysia

Suatu saat di Kamis sore, pas gue lagi siaran After Hour, tiba-tiba salah seorang temen sekantor masuk ruang siaran, sambil membawa sebuah kotak dan nanya ke gue.

Tama   : Ada yang mau cokelat nggak
Gw      : Mauuu dong, dari siapa?
Tama   : Dari Si Fajar. Ibunya baru balik dari Malaysia. (Ternyata ibunya kerja di sana)



Kayanya temen gue salah besar kalo nanya apakah gue mau cokelat atau nggak. Karena itu merupakan pertanyaan retoris yang bener-bener nggak membutuhkan jawaban. Udah pasti lah gue bakal menjawab mauuu atau iyaaa. Nah, abis dia nawarin tuh cokelat ke gue sama anak-anak lainnya, kita buka lah itu cokelat. Kok namanya Belgian Chocolate ya? Padahal asalnya dari Malayasia -___- Ah yang penting cokelat dan rasanya enak. Jadi cokelat itu bentuknya hati, ada cokelat putih dan cokelat biasa. Rasanya sih lumayan, cuma yang jadi pertanyaan gue adalah kenapa cokelat Malaysia ini dinamain Belgian Chocolate sih. Yang jelas sore itu gue menghabiskan 3 buah cokelat hati (ternyata rasanya manis banget, jadi gampang bikin kenyang). Lumayan deh buat menaikkan lagi mood gue yang rada jelek sore itu (jujur sore itu gue lagi males banget siaran). Jadi, semakin terbukti, cokelat emang bisa mengembalikan mood gue.. Makasih buat Ibunya si Fajar yang udah ngasih cokelat ke kita yah. Kapan-kapan kasih lagi ya.. Senantiasa tertampung deh :)))