Sunday, August 20, 2017

Adiksi

Persepktif May....



Sore itu sinar matahari pukul 5 yang masuk menembus kaca mobil sebelah kiri menyapu wajah May. Seketika rasa hangat merayapi setiap bagian wajah May sembari dia menatap wajah Joni yang fokus mengemudikan mobil di sampingnya. Jalanan dari Puncak menuju Jakarta padat merayap di sore itu. Seperti biasa, Sabtu merupakan hari favorit setiap orang untuk mengunjungi tempat ini. May menatap setiap detail wajah Joni, monster di kepalanya bertanya, apakah ini akan menjadi pertemuan yang terakhir. Jika memang begitu, May tidak akan melewatkan kesempatan itu untuk merekam dan menyimpan wajah Joni pada long term memory-nya, lelaki yang dekat dan dikenalnya selama sepuluh bulan terakhir.

Dua hari sebelumnya, May mengajak Joni untuk jalan-jalan ke tempat ini dan berjanji mengakhiri hubungan mereka. Segala bentuk pergolakan batin yang dialaminya, membuatnya lelah dan ingin segera mengakhiri hubungan yang absurd ini. Namun yang terjadi adalah May tidak akan pernah sanggup untuk melakukannya. Sepanjang perjalanan pulang May hanya mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Joni. Dua gelas kopi dan sepiring roti bakar menemani pertemuan pertama mereka di salah satu kedai di Cikini. Perbincangan dan kesan yang biasa saja. Itu yang dirasakan May.

Bagi May, kini Joni adalah sosok laki-laki yang menjadi candu. Sosoknya yang cerdas, santai, cuek, serta nuansa kehidupannya yang penuh rasa sepi, kebosanan dan skeptimisme membuat May jatuh hati padanya. May tidak pernah menyangka, percakapan dan pertemuan yang begitu intens di antara mereka, membuatnya ingin selalu mengisi kekosongan yang dirasakan Joni. Segala cerita Joni mengenai pekerjaaan, keluarga dan percintaannya menarik hati May. Perihal cinta, May tidak pernah menyangka, bagaimana bisa, Joni yang begitu logis mampu mencintai Dira, teman SMA-nya, semenjak masa kuliah dan begitu konsisten hingga sekarang. Cerita cinta mereka tidak berjalan mulus seperti drama cinta di televisi. Dira, wanita dengan pemikiran modern, membiarkan hubungannya dengan Joni mengalir saja, tanpa sebuah komitmen yang mengikat. Dalam perspektif May, Dira begitu dingin merespon cinta Joni.

Lampu-lampu jalan sudah menyala ketika May dan Joni hampir tiba di Jakarta. Tak ada lagi sinar matahari sore hangat, yang ada hanyalah sorotan lampu dari mobil lain yang lalu lalang. Ujung perjalanan membawa mereka pada topik pembicaraan yang sudah berulang kali terucap.

"Jadi gimana? Kita nggak bisa terus begini, May. Harus diakhiri sebelum semuanya semakin dalam." ucap Joni
May terdiam dan meminta Joni menepikan mobil yang sering mengantarkan mereka berpetualang selama sepuluh bulan terakhir ini.
"Aku nggak bisa mengakhiri semua ini, Jon. Aku ga mau ngalah. Dira itu nggak jelas,"jawab May
"Ya, terus kamu mau sakit begini terus setiap aku sama Dira."tukas Joni
Bagaimana pun Joni tidak memungkiri perasaan nyaman yang ia rasakan saat bersama May. Namun rasa nyaman itu mulai sirna dan berganti rasa bersalah seiring ungkapan cinta yang May sampaikan kepada Joni tiga bulan lalu. Itu yang dikatakannya kepada May.
"Aku besok akan makan dengan Mama dan mengajak Dira. Aku serius dengan Dira, May."lanjutnya
May pun tak dapat menahan tangisnya. Bagaimana Dira, seorang yang dianggapnya dingin, bisa menerima ajakan Joni untuk bertemu dengan ibunya. Bagaimana bisa Dira yang sering mengabaikan perasaan Joni, kini berbalik peduli padanya.

May tidak dapat menyembunyikan isak tangisnya yang semakin keras. Perasaan takut ditinggalkan dan kehilangan Joni berkumpul di dada-nya, menimbulkan efek sesak. Bukan karena kepada Joni-lah dia memberikan keperawanannya, namun karena ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan di hati Joni.

May terdiam...

"May, apa yang kamu pikirin? Kamu mau marah May? Kamu pasti pikir aku jahat kan May? May?"tanya Joni bertubi-tubi

May paham betul, Joni mengharapkannya untuk marah atau mengatakan bahwa benar dia adalah seorang penjahat. Namun May memilih diam dan mengingat aroma tubuh Joni, bagaimana cara Joni menciumnya, memeluknya dan tertawa di sampingnya. Bagi May, Joni adalah sesuatu yang adiktif. Lewat sekelebat dalam pikirannya dalam waktu dan tempat yang tak mampu May mengontrolnya.

Malam semakin larut ketika May memutuskan untuk pulang tanpa di antar Joni di depan rumahnya. Dan seketika itu pula May memutuskan untuk menghentikan adiksi-nya.....


Cerpen ini ditulis di rumah sambil mendengarkan lagu dari Happy End - Kaze Wo Atsumete

No comments:

Post a Comment